Sabtu, 10 Januari 2009
Sejarah Cibodas
Lokasi tersebut pada mulanya merupakan bagian dari Kebun Raya Bogor sebagai areal aklimatisasi (penyesuaian iklim) untuk jenis-jenis tanaman yang didatangkan dari luar negeri yang tidak dapat tumbuh baik di Bogor. Kemudian areal aklimatisasi tersebut dikembangkan menjadi Kebun Botani yang diberi nama Bergtuin te Tjibodas atau Kebun Pegunungan Cibodas
Sesuai dengan surat keputusan Ketua LIPI pada tanggal 17 Januari 1987 Nomor 25/KRP/D.5/87, kebun tersebut akhirnya diberi nama Cabang Balai Kebun Raya Cibodas. Memasuki Milenium tahun 2000, cabang Balai Kebun Raya Cibodas menyelenggarakan peringatan hari jadinya yang ke-148, peringatan hari jadi ini dilakukan untuk yang pertama kalinya karena sebelumnya tidak diketahui secara pasti hari berdirinya kebun raya tersebut. Untuk mendapatkan kepastian siapa pendirinya, tanggal, bulan dan tahun berdirinya, maka Dr. Dedy Darnedi Kepala UPT Balai Konservasi tumbuhan kebut raya –LIPI pada tanggal 13 Maret 1999 telah membentuk tim penelusuran sejarah kebun raya cibodas dan purwodadi melalui surat keputusan Nomor 457/II.1.06/KS/99. Tim tersebut diketuai oleh Dr. Soetomo Soerohaldoko, sekretaris Dr. B. Paul Naiola yang beranggotakan Dr. Rusjdi E. Nasution, Sarkat Danimiharja, M.Sc, Drs. R. Subekti Purwantoro dan Sudjati Budi Susetyo, B.Sc, Ny Kinarti Aprilani Soegiarto, B.Sc, ditunjuk sebagai nara sumber utama tim tersebut kemudian didukung oleh tim penunjang dari Kebun Raya Cibodas sesuai Surat Keputusan Cabang Balai Kebun Raya Cibodas tanggal 26 November 1998 Nomor 761/II.1.06.01/IF/1998.
Penelusuran sejarah dilakukan melalui kajian pustaka dari Perpustakaan Kebun Raya Cibodas, Perpustakaan Kebun Raya Bogor, Perpustakaan Nasional dan Arsip Nasional. Disamping itu informasi dikumpulkan pula dari Pusat Penelitian Kina dan The di Gambung dan Cinyiuran, Rijksherbarium Leiden serta para mantan pimpinan Kebun Raya Cibodas. Tanggal 11 April 1852 disimpulkan sebagai hari berdirinya Kebun Raya Cibodas. Karena pada tanggal tersebut bibit kina dari negeri Belanda yang akan ditanam di Pasir Tjibodas (Kebun Raya Cibodas) tiba di Kebun Raya Bogor.
Penanaman kina di Cobodas tersebut mempunyai nilai menumental yang hakiki. Cibodas telah mencatat sejarah perkinaan di Indonesia. Kina yang ditanam pada tahun 1852 di Cibodas, disusul penanaman kedua pada tahun 1854 oleh Justus Karl Hassakari merupakan cikal balal perkebunan kina di Indonesia.
Banyak artikel tentan Kebun Raya Cibodas yang telah mengangkat kekayaan keanekaragaman hayati, juga keindahan panorama alamnya yang mempesona dengan sentuhan landskap karya Teysmann yang masih dapat disaksikan hingga sekarang. Dr. F.W Went ahli fisikologi tumbuhan, penemu auksin sebagai hormone pada tumbuhan (mantan Kepala Laboratorium Treub) dalam tulisannya tahun 1945 yang berjudul “a Naturalist’s Paradise” seri The Tjibodas Biological Station and Forest Reserve, mengungkapkan secara puitis kesannya tentang Cibodas If Paradise Still exists on earth, Tjibodas must have been part of it (seandainya ada surga dimuka bumi ini, maka Cibodas pastilah bagian daripadanya).
Tulisan ini diterbitkan pertama kali berkenaan dengan peringatan ulang tahun ke-148 Kebun Raya Cibodas dan menyambut 183 tahun Kebun Raya Bogor yang didirikan pada tanggal 18 Mei 1817 oleh Dr. C.G.C Reinwardt.
Sumber : Buku Sejarah Kebun Raya Cibodas - LIPI
Sejarah Sepakbola
Sumber: Ahmad Fuad Afdhal
Kamis, 08 Januari 2009
Sejarah Grup Band Pure Saturday
Pure Saturday... Band berbakat asal
Dari keisengan itu pula mereka mencoba membuat lagu dan ternyata satu sama lain menemukan kecocokan. Yah... iseng-iseng berhadiah lah... Lalu dibuatlah kesepakatan untuk ngeband secara serius dan mulai mencari kegiatan musik yang diselenggarakan di
Akhirnya terpilihlah nama "Pure Saturday" yang tercetus secara spontan. Nama ini diambil karena hari Sabtu merupakan hari latihan, sejak pagi hingga menjelang subuh. Jadi maksudnya hari Sabtu itu benar-benar merupakan hari kerja buat mereka. Disamping itu, untuk mengisi kekosongan waktu anak-anak PS yang saat itu masih pada jomblo, maka dari pada bengong berhayal yang tidak-tidak mendingan ngeband. Begitulah motto hidup mereka.
Tahun yang sama Pure Saturday berhasil menjuarai festival musik unplugged se-Jawa dan DKI dengan lagu yang mereka ciptakan sendiri Enough. Di festival ini PS mendapat Juara Pertama kategori Umum. Wah... keren... Sejak saat itu PS jadi semakin sering bikin lagu. Karena kemenangan tersebut, Pure Saturday semakin terkenal dan dikenal terutama oleh para barudak musik
Ketenaran PS ini membuat Ambari (ini nama orang lho!) berminat membuatkan PS album lewat jalur indie label. Pada saat itu manajer Pure Saturday adalah adiknya Yuki yang tidak lain dan tidak bukan adalah vokalis PAS. Nah... PAS ini mempunyai seorang manajer yang tidak lain dan tidak bukan adalah Ambari. Antara manajer PS dan PAS ternyata terjalin hubungan yang baik... yah... sedikit nepotisme gpp lah... Kesepakatan pun dibuat sambil mencari orang yang mau memodali biaya produksi. Akhirnya ada juga seorang teman yang baik yang mau membiayai.
Percaya diri mulai tumbuh dan berkembang dan bersemi pada tubuh PS dan mulai membuat komposisi-komposisi musik yang akhirnya cukup kuat untuk sebuah album perdana. Akhirnya Pure Saturday mencoba hadir di blantika musik
Album perdana PS ini digarap secara independen dan dipasarkan secara mail order lewat sebuah majalah remaja di
Album yang berisi delapan lagu ini ternyata mendapat sambutan yang bagus, karena dinilai lagu-lagu PS masih fresh, dan tidak mengikuti trend musik saat itu. PS datang dengan warna yang lain, maksudnya diantara musik-musik keras yang saat itu sedang naik, PS malah menyuguhkan musik yang slow tapi gahar. Mungkin seperti slogan acara Resurrection... "Awake against mainstream and proud of it". Yah begitulah kira-kira. Boleh dibilang album mereka laku keras. Saat masih diedarkan sendiri 700 kopi yang terjual. Sedangkan melalui distribusi Ceepee Production terjual sebanyak 2000 kopi. PS sangat mensyukuri anugerah ini meskipun banyak yang menilai musik mereka sangat berbeda. ''Berarti kita sudah diakui dan keinginan kita agar berbeda dari yang lain terwujud,'' seru Ade.
Kegiatan bermusik membuat urusan akademis (sekolah) mereka terbengkalai. Akhirnya, mereka mencoba untuk membenahi urusan akademis terlebih dahulu. Hal itu malah membuat mereka tidak bisa berkumpul dan membuat lagu. Di kondisi waktu yang terbatas mereka mencoba lagi untuk membuat komposisi-komposisi yang akhirnya selesai, kemudian masuk studio rekaman dan selesai awal 1999. Untuk album kedua mereka dikontrak oleh PT. Aquarius Musikindo. Album kedua ini diberi judul "Utopia".
Menapaki jalur indie bagi mereka merupakan satu strategi, selain agar dikenal publik lebih luas juga agar mereka tidak dipermainkan produser jika menempuh jalur major label. ''Kalau kita sudah mengeluarkan album indie, produser tidak bisa seenaknya lagi menyuruh kita ganti warna musik, karena sebelumnya kita sudah punya fans sendiri,'' papar Udhie.
Pure Saturday sempat vakum sebelum pada akhirnya Suar mengundurkan diri pada tahun 2004. Posisi Suar kemudian digantikan oleh sang manajer, iyo. Pada Maret 2005, PS kembali hadir dengan album ketiganya yang berjudul "ELORA". Kehadiran PS kali ini dengan formasi barunya dan dengan membawa label baru, Fast Forward Records.
(dari berbagai sumber)
Katon Bagaskara Lahir di Magelang, 14 Juni 1966, sebagai Vokalis dalam grup
Adi Adrian Lahir di Medan, 22 Oktober 1965, memainkan Keyboard dalam. Kla Project Sempat kuliah di UI Jurusan Hukum lalu berganti di Universitas Trisakti Jurusan Desain Grafis. Ia memiliki Rumah Produksi 'Warna Musik' yang telah sukses menelurkan artis-artis baru seperti Andre Hehannusa, Memes, Rida Sita Dewi, dll.
EKSISTENSI GRUP MUSIK KLA PROJECT
Berawal pada tahun 1988, di daerah Tebet- Jakarta Selatan, sekelompok anak muda ini mengawali eksistensi di blantika musik
Nama dan Logo KLa - huruf 'K', 'L' ditulis dengan huruf kapital dan 'a' dengan huruf kecil, mengandung arti inisial panggilan dari anggota personil grup ini. K = Katon (Katon Bagaskara), L = Lilo (Romulo Radjadin), dan a = Adi (Adi Adrian). Pada 'a' dengan huruf yang kecil karena dalam sejarah Ari Burhani (Ari) pernah bergabung dalam grup ini. PROJECT sendiri mempunyai arti bahwa grup ini terbuka untuk vokalis, musisi lain dan programmer yang mendukung garapan KLa Project sendiri. Secara keseluruhan Logo KLa PROJECT dilatari dengan trapesium.
Sampai saat ini mereka hanya bertiga yang masih bermain musik. Dalam konser mereka banyak dukungan baik dari musisi dalam dan musisi luar negeri. Lagu dan Album - Lagu yang dibawakan oleh kelompok musik KLa Project ini bertemakan tentang cinta, lingkungan sekitar, dan kecintaan terhadap tanah air. Bisa dilihat dalam lagunya yang berjudul,
KLa Project (1989), ini adalah album pertama mereka. "Tentang kita", lagu yang pernah hits yang dirilis pada tahun 1988 bercerita tentang hubungan seorang pria dan wanita. Dalam garapannya mereka dibantu oleh Fransisca Insani (Sisca) sebagai vokalis wanita. Penampilan terakhir mereka secara bersama pada saat acara 1 Jam Bersama KLa Project di Indosiar, tgl. 23 Februari 1999, Yang di siarkan secara 'Live' dari studio Indosiar. Mereka seakan bernostalgi kembali dalam alunan irama yang mereka bawakan, Tentang Kita ....
KLa "Kedua" Project (1990). Album yang mendapatkan penghargaan BASF Award pada tahun 1991 untuk Album Terlaris dalam kategori "Techno Pop". Lagu hitsnya adalah "Yogyakarta", adalah sebuah nama
Pasir Putih (1991). Dengan lagu hits, "Tak Bisa ke Lain Hati" yang mendapatkan penghargaan sebagai lagu paling popular untuk kategori Pop Kontemporer. Dan disinilah kita dapat mengenal KLa Project lebih akrab dan peduli dengan lingkungan sekitar, Pantai Pasir Putih. Dan nama ini dijadikan judul dari Album mereka kali ini.
Ungu (1994) adalah album pertama tanpa Ari. Dengan lagu hits "Terpurukku di sini". keunikan mereka dalam bermusik terlihat lebih matang dalam lagu ini. Kemurungan dalam lagu ini tersamar oleh intro yang dibawakan oleh David Rockefeller dengan alat musik muted horn. Lengkingan terompet yang berakhir nada tinggi sebagai simbol sebuah jeritan dan tangisan hati, ditata sebagai antiklimaks yang kemudian diisi suara vokal dengan nada rendah.
V (1995) adalah album kelima dengan lagu hits "Romansa". KLaKustik - Ini adalah satu sejarah dalam dunia musik
KLakustik # 1 (1996) adalah album keenam yang direkam secara live di Gedung Kesenian Jakarta, 11 Maret 1996, yang membawakan hampir semua lagu yang pernah mereka buat hanya saja garapan kali ini dengan sentuhan musik unplugged. Adapun lagu baru yang mereka bawakan adalah "Gerimis" dan "Salamku Sahabat".
KLakustik # 2 (1996) merupakan kelanjutan album KLakustik pertama pertama.
Sintesa (1998), adalah album ke-7 yang menjadi barometer musik di
KLaSIK (1999) Album ke-8. Dalam Proses album kali ini, mereka lebih terbuka dan kompromi dalam meramu Album untuk disuguhkan ke khalayak pendengar (KLanis). Terlihat dari awal proses pembuatan lagu, lirik dan konsep yang mereka jaga sebagai kunci meledaknya Album ini. Detik-detik yang ditunggu KLanis dan bakal penggemar baru adalah sebuah bukti bahwa karya KLa Project bukan hal yang biasa.
Minggu, 04 Januari 2009
Awal keberadaan Industri Tauco di Cianjur
Awal makanan tauco di Cianjur diperkirakan pada tahu 1880. Waktu itu, Tan Ken Yan untuk pertama kalinya mencetuskan ide pendirian industri tauco. Ide ini didasarkan pada tingginya minat masyarakat terhadap makanan tauco dan tauco sering digunakan masyarakat sebagai penyedap dalam masakan daging, ikan, sayuran, serta sambal (Wawancara dengan Wirijati Tasma, 27 November 2008). Industri tauco pertama di Cianjur adalah Industri Tauco Cap Meong yang didirikan oleh Tan Ken Yan tahun 1880. Pendirian industri ini didasarkan pada tingginya minat pasar terhadap makanan tauco serta menjaga warisan leluhur.
Selama berdirinya, tauco Cap Meong terkenal akan kelezatan dan kualitasnya. Agar tauco ini tidak punah, Tan Ken Yan mewariskan tata cara pembuatan tauco kepada putrinya Tasma dan suaminya Babah Tasma. Penamaan meong sendiri mulai digunakan tahun 1935. Istilah meong sendiri berasal dari ditemukannya tapak kaki meong yang diyakini sebagai peliharaan Eyang Suryakencana seorang leluhur Cianjur. Setelah bercerai, Tasma melanjutkan usaha tauco Cap Meong dan Babah Tasma mendirikan industri tauco Cap Gedong. Tak lama kemudian berdiri industri tauco lainnya, seperti industri tauco cap Singa, Gajah, dan Kucing (Wawancara dengan Wirijati Tasma, 27 November 2008).
Kurang mantapnya stabilitas ekonomi pada masa kemerdekaan dan sneering, menyebabkan beberapa industri tauco mengalami gulung tikar. Dari sekian industri tauco yang ada, hanya industri tauco Cap Meong yang mampu bertahan. Sementara industri tauco lainnya mengalami gulung tikar, karena kualitas produk yang kurang begitu bagus dan tidak ada anggota keluarga yang meneruskan usaha tauco ini. Industri tauco Cap Meong mampu bertahan karena ditunjang oleh kualitas produk yang sangat bagus dan ada anggota keluarga yang meneruskan dari usaha ini.
Memasuki tahun 1960, berdiri industri Tauco Cap Biruang untuk mengikuti kesuksesan yang diperoleh industri tauco Cap Meong. Setelah itu, muncul industri tauco lainnya seperti industri tauco Cap Harimau, Macan Tutul dan tauco Djajuli Putra (Wawancara dengan Ma’mun, 19 November 2008). Namun sangat disayangkan penulis tidak dapat memperoleh data mengenai jumlah industri tauco yang berdiri pada saat itu. Dari industri-industri tersebut, Industri Tauco Cap Meong, Cap Biruang, dan Djajuli Putra yang terkenal akan rasa dan kelezatannya (Sasmito, 1993: 10).
Warisan dari Negeri Seberang
Interaksi masyarakat Nusantara, khususnya Jawa, dengan bangsa Cina terjadi sejak awal abad pertama Masehi. Dalam perjalanan sejarah, interaksi yang berlangsung selama berabad-abad menyebabkan sejumlah budaya Cina meresap dalam kebudayaan dan kehidupan sehari-hari orang Jawa. Tak pelak, masyarakat Cina memainkan peran yang sangat penting dalam perkembangan budaya di Jawa. Bahkan, sejumlah identitas budaya yang saat ini dikenal menunjukkan kekhasan satu kelompok masyarakat Jawa, awalnya adalah milik orang Cina.
Mari kita tengok Pulau Madura. Apa yang khas dari sana? Mendengar kata Madura, terlintas di benak kita sosok lelaki berkumis tebal mengenakan celana gombrong berwarna hitam dan baju tanpa krah yang berwarna sama. Pakaian itu sekarang ini menjadi identitas orang Madura. Apakah orang Madura memang sengaja menciptakan pakaian itu? Pakaian itu adalah pakaian orang Kanton. Orang Cina mempekernalkannya ke tanah Jawa.
Masyarakat Nusantara, sebelumnya, tidak memiliki tradisi pakaian yang dijahit. Relief-relief pada kaki candi-candi Hindu-Jawa termasuk pada candi dari zaman Majapahit membuktikan bahwa manusia dari kedua zaman itu hanya mengenal kain lipat (selubung).
Pakaian pas hasil jahitan muncul di Nusantara pada abad ke-15 sampai 16 seiring dengan arus perdagangan bangsa Cina yang membawa kelengkapan wajib dalam membuat pakaian jahit, yaitu jarum dan benang.
Selanjutnya, tradisi berpakaian tidak bisa dilepaskan dengan tradisi menyetrika. Kata setrika dalam bahasa Indonesia untuk menyebut kegiatan menggosok pakaian dengan lempengan besi panas untuk menghaluskan pakaian berasal dari bahasa Belanda strijken. Namun, apakah tradisi ini pertama kali dibawa oleh bangsa Belanda?
Sejarawan Prancis terkemuka Prof. Dr . Denys Lombard dalam bukunya "Nusa Jawa: Silang Budaya", menelusuri, tradisi menyetrika diperkenalkan ke bumi ini oleh masyarakat Cina. Sebelum kata setrika populer digunakan, orang Melayu menyebutnya utau. Kata ini dapat dilihat pada kamus A Malay-English Dictionary Romanised karangan R. J. Wilkinson. Kata utau berasal dari bahasa Cina yuntou. Menurut Lombard, ini menunjukkan bahwa orang Melayu mengenal tradisi yang tak terpisahkan dari kehidupan kita sekarang ini dari orang Cina.
KH:
Kata UTAU itu berasal dari bahasa Hokkian. Dalam bahasa Hokkian setrika disebut: UT TAO (熨斗)
Selanjutnya, di luar urusan pakaian, Indonesia dikenal sebagai negara agraris. Pada zaman Soeharto, Indonesia sukses sebagai negara swasembada beras, bahkan mampu menjual beras ke negara-negara lain. Bila kita pergi ke desa, indah rasanya melihat deretan tanaman padi yang menguning dan berbaris rapi. Memandang hamparan sawah yang subur, nampaknya kita juga pantas mengucapkan terima kasih kepada masyarakat Cina abad ke 19.
Bangsa Cina memang bukan pemegang monopoli dalam urusan makanan pokok orang Indonesia ini. Namun, mereka memainkan peran penting dalam menggerakkan dan mendorong bangsa Jawa serta memperkenalkan teknik-teknik pertanian. Umumnya, produk pertanian dari daerah Batavia berasal dari negeri Cina. Pada zaman kolonialisme Belanda di abad ke 17, usaha-usaha pertanian banyak dipegang oleh masyarakat Cina. Orang-orang Jawa diangkat menjadi pekerja untuk mengolah tanah.
Orang-orang Tionghoa di Banten dibawah pimpinan Souw Beng Kong mengajarkan petani-petani setempat untuk menanam padi di sawah-sawah berpetak dengan menggunakan pematang dan membajak serta mengairinya. Sebelumnya, para petani tersebut hanya menanam padi di ladang. Hasilnya jauh lebih sedikit ketimbang menanam padi dengan cara baru ini.
Selain mengajari teknik menanam, Lombard menelusuri, tahun 1750 orang-orang Cina memperkenalkan alat penyosoh padi dengan menggunakan dua tiga ekor sapi. Dengan alat ini, petani dapat mengolah 500 ton padi sehari. Sebelumnya, sistem tradisional, menumbuk dalam lesung, cuma menghasilkan 100 ton padi sehari.
Lebih jauh, tanaman lain yang pantas disebut berkaitan dengan peran orang Cina adalah tanaman sumber protein yaitu kacang hijau. Kacang hijau dibawa dan dibudidayakan oleh masyarakat Cina petani bersamaan dengan kacang tanah. Sampai sekarang produk olahan kacang hijau masih menggunakan nama Cina: tauge (kecambah), tahu, taoci (yang digunakan sebagai bumbu). Salah satu stereotip makanan khas Indonesia yaitu tahu yang diolah dari kacang kedelai, aha!, bercikal-bakal dari negeri seberang. Orang Cina sepertinya tidak memiliki ikatan lagi ketika kita menyebut makanan tahu.
KH:
Tahu dan taoco dibuat dari kacang kedelai.
Bangsa Cina memang dikenal luas dalam hal selera makanannya. Kepopuleran masakan Cina di Indonesia tampaknya hanya diungguli oleh masakan Padang. Dalam banyak hal, sejumlah makanan Cina telah melebur menjadi identitas Indonesia.
Di Jakarta, rasanya tidak ada satu pun gang yang tidak dilewati oleh tukang bakso. Menjajakan bakso menjadi salah satu identitas profesi yang khas bagi masyarakat urban Jakarta. Makanan yang terdiri dari campuran mie dan bulatan daging giling dicampur tepung dan berkuah itu asalnya dari Cina. Semua makanan di Indonesia yang menggunakan bahan pokok mie berasal dari Cina. Namun sekarang, ada bakso yang dikenalkan sebagai bakso khas Wonogiri.
KH:
Dalam bahasa Indonesia banyak nama makanan yang berasal dari bahasa Hokkian. Sebagian orang bahkan tidak menyadari bahwa banyak makanan2 yang menjadi trade mark suatu daerah di Indonesia ternyata berasal dari bahasa Hokkian.
Indonesia Hokkian [contoh makanan 'lokal']
bakso baq so (肉酥) [Bakso Tenis]
bakwan baq wan (肉圓) [Bakwan Malang]
bakmi baq mi (肉麵) [Bakmi Jawa]
bakcang baq cang (肉粽)
bakpao baq pao (肉包) [Bakpao Medan]
bakpia baq pnia (肉餅) [Bakpia Patok]
tahu tao hu (豆è…) [Tahu Sumedang]
taoge/toge tao ge (豆芽) [Toge Goreng Bogor]
tauco tao cnio (豆醬) [Tauco Cianjur]
mie mi (麵)
bihun bi hun (米粉)
kwetiauw kue tiao (æžœæ¢) [Kwetiauw Sapi Pontianak]
siomay sio mai(燒賣) [Siomay Bandung]
moci mua ci (麻薯) [Moci Sukabumi]
kue kue (粿)
hunkwe hun kue (粉粿)
ebi hebi (è¦ç±³)
teh te (茶) [Teh botol]
Demikian halnya dengan soto. Makanan yang asalnya juga khas Cina ini telah menjadi bagian dari makanan masyarakat Indonesia. Dengan menyesuaikan olahan bumbu agar pas dengan lidah orang Indonesia, lahirlah kemudian Soto Semarang, Soto Kudus, Soto Madura, Soto Bangkong, dan sebagainya.
Daftar warisan bangsa Cina dalam lapisan kebudayaan Indonesia, khususnya Jawa, masih demikian panjang untuk diuraikan. Mulai dari tanaman, pengolahan tebu, gula, arsitektur, sampai sejumlah ritual keagamaan dan kebiasaan sehari-hari yang menyusup demikian halus.
Sebut saja yang terakhir, kalau kita mengunjungi mesjid-mesjid di negara-negara Timur Tengah, termasuk Arab Saudi, kita tidak aka menemukan bedug yang menandakan azan lima waktu. Demikian pula, kita tidak akan menemukan model pesantren seperti yang terdapat di Jawa.
Pula halnya dengan tradisi bulan puasa Ramadhan dan Idul Fitri. Hanya di Indonesia orang menyalakan petasan selama masa itu. Ketiga hal tersebut jelas sangat dipengaruhi oleh budaya Tiongkok. (Heru Margianto)
